Oleh : Rony Kasmanto
Dari Krisis ke Peluang: Resiliensi BMKG yang Menginspirasi
Pendahuluan
Pandemi COVID-19 yang melanda dunia sejak akhir tahun 2019 hingga 2020 telah menjadi ujian besar bagi hampir seluruh negara, termasuk Indonesia. Krisis ini bukan hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga mengguncang sendi-sendi ekonomi, sosial, dan tata kelola pemerintahan. Aktivitas ekonomi melambat, produktivitas menurun, sementara kebutuhan terhadap layanan publik justru meningkat tajam. Pemerintah Indonesia, seperti banyak negara lainnya, dipaksa untuk beradaptasi secara cepat — menata ulang prioritas pembangunan, menyesuaikan alokasi anggaran, serta memastikan layanan dasar masyarakat tetap berjalan di tengah ketidakpastian global.
Namun, di balik tekanan besar tersebut, pandemi juga membuka peluang untuk bertransformasi. Krisis menjadi cermin sekaligus momentum bagi institusi pemerintahan untuk memperkuat sistem, struktur, dan budaya kerja agar lebih tangguh dan adaptif menghadapi disrupsi di masa depan. Salah satu lembaga yang menunjukkan kemampuan luar biasa dalam hal ini adalah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Sebagai instansi yang berperan vital dalam penyediaan informasi cuaca, iklim, kualitas udara, serta peringatan dini geofisika, BMKG memiliki tanggung jawab besar terhadap keselamatan masyarakat dan ketahanan nasional.
Tantangan yang dihadapi BMKG selama pandemi tidak ringan — mulai dari keterbatasan mobilitas pegawai, gangguan pada kegiatan observasi lapangan, hingga kebutuhan mendesak untuk memastikan keandalan sistem informasi dan komunikasi di tengah situasi darurat. Namun, justru dalam tekanan inilah resiliensi BMKG teruji dan terbukti.
BMKG berhasil mengubah krisis menjadi momentum inovasi dan percepatan transformasi digital. Melalui sistem kerja jarak jauh berbasis teknologi, optimalisasi data real-time, serta kolaborasi lintas lembaga dan lintas negara, BMKG memastikan layanan publik tidak hanya berlanjut, tetapi semakin efektif dan responsif. Pandemi menjadi titik balik bagi organisasi ini untuk menata sistem kerja yang lebih efisien dan adaptif terhadap tantangan masa depan.
Memasuki tahun 2025, ujian baru muncul dalam bentuk kebijakan efisiensi anggaran nasional. Melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja Negara dan Daerah, pemerintah mengarahkan seluruh kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah untuk melakukan optimalisasi penggunaan anggaran dengan target efisiensi mencapai Rp306,69 triliun. Kebijakan ini bukan sekadar langkah penghematan, tetapi juga strategi untuk memperkuat akuntabilitas, efektivitas, dan tata kelola keuangan publik di tengah situasi ekonomi global yang masih rentan.
Dalam konteks ini, BMKG kembali dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana menjaga kualitas layanan publik dan kesiapsiagaan terhadap bencana dengan sumber daya yang lebih terbatas. Namun, seperti yang telah terbukti selama pandemi, BMKG memilih untuk tidak sekadar bertahan — tetapi melangkah maju dengan inovasi, sinergi, dan efisiensi.
Pendekatan “doing more with less” yang dijalankan BMKG mencerminkan semangat adaptif birokrasi modern yang berorientasi hasil (result-oriented governance). Melalui digitalisasi proses kerja, integrasi data multi-sumber, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta kolaborasi strategis dengan mitra nasional dan internasional, BMKG menjadikan efisiensi bukan sebagai hambatan, melainkan peluang untuk memperkuat ketangguhan organisasi.
Dengan demikian, perjalanan BMKG dari masa pandemi hingga kebijakan efisiensi anggaran tahun 2025 menjadi kisah inspiratif tentang bagaimana sebuah lembaga publik mampu bertransformasi secara berkelanjutan—dari krisis menuju peluang—dengan mengedepankan prinsip ketangguhan, inovasi, dan pelayanan publik yang berorientasi pada keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Latar Belakang Krisis – Pandemi COVID-19 dan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025
Pandemi COVID-19 menjadi salah satu krisis terbesar abad ke-21 yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak hanya menimbulkan masalah kesehatan yang serius, pandemi ini juga berdampak besar pada kondisi sosial, ekonomi, dan pemerintahan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pada tahun 2020, perekonomian Indonesia mengalami penurunan tajam dengan pertumbuhan ekonomi minus 2,1%, setelah sebelumnya stabil tumbuh sekitar 5% setiap tahun sebelum pandemi (IMF, 2022). Dampak pandemi juga terasa langsung di masyarakat. Menurut penelitian UNICEF (2021), jumlah penduduk miskin di Indonesia meningkat hingga 2,7 juta orang pada tahun pertama pandemi. Kondisi ini memperlebar kesenjangan sosial dan menurunkan tingkat kesejahteraan banyak keluarga.
Untuk mengendalikan penyebaran virus, pemerintah menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Kebijakan ini memang terbukti efektif dalam menekan kasus COVID-19, tetapi di sisi lain juga menurunkan aktivitas ekonomi dan membuat ruang keuangan pemerintah menjadi lebih sempit untuk mendukung pembangunan dan layanan publik. Memasuki masa pemulihan setelah pandemi, pemerintah Indonesia menghadapi tantangan besar untuk menjaga kestabilan ekonomi sekaligus memastikan keuangan negara tetap sehat. Pada awal tahun 2025, Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Instruksi Presiden (InPres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang penghematan belanja negara dan daerah. Melalui kebijakan ini, pemerintah berupaya mengatur kembali penggunaan anggaran agar lebih hemat dan tepat sasaran, dengan target efisiensi mencapai sekitar Rp306,69 triliun.
Langkah ini dilakukan dengan cara mengurangi sebagian anggaran di kementerian, lembaga, dan dana yang ditransfer ke daerah, agar dana negara dapat digunakan secara lebih efektif untuk program-program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat (Peraturan BPK, 2025).
Dalam situasi ini, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) menjadi contoh nyata lembaga pemerintah yang mampu menunjukkan resiliensi institusional di tengah tekanan krisis dan kebijakan efisiensi. Sebagai institusi strategis yang berperan dalam mitigasi bencana alam, pengamatan iklim, serta peringatan dini cuaca ekstrem, BMKG tidak hanya dituntut untuk menjaga kontinuitas layanan publik, tetapi juga berinovasi di tengah keterbatasan sumber daya.
Krisis pandemi dan kebijakan efisiensi anggaran justru menjadi momentum refleksi dan transformasi bagi BMKG. Melalui pemanfaatan teknologi digital, penguatan jaringan kerja sama nasional dan internasional, serta peningkatan kapasitas SDM berbasis kompetensi, BMKG berhasil mengubah tantangan menjadi peluang untuk memperkuat sistem layanan kebencanaan dan keilmuan. Oleh karena itu, artikel ini akan mengulas bagaimana BMKG bergerak dari krisis menuju peluang—menunjukkan ketangguhan, adaptasi, dan inovasi dalam menjaga keandalan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika. Lebih dari sekadar bertahan, BMKG menjadi contoh resiliensi birokrasi publik yang inspiratif dalam menghadapi dinamika perubahan global.
BMKG dalam Krisis – Adaptasi dan Inovasi di Tengah Pandemi
Selama pandemi, BMKG menghadapi tantangan besar dalam menjalankan tugasnya sebagai penyedia informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika. Namun, dengan semangat inovasi dan adaptasi, BMKG berhasil mengimplementasikan berbagai langkah strategis, antara lain:
- Transformasi Digital Layanan Informasi
BMKG mempercepat digitalisasi layanan informasi cuaca dan iklim melalui pengembangan aplikasi mobile dan platform online. Hal ini memungkinkan masyarakat dan instansi terkait untuk mengakses informasi secara real-time, meskipun dalam kondisi pembatasan fisik. - Implementasi Sistem Kerja Remote
Untuk menjaga kontinuitas operasional, BMKG menerapkan sistem kerja remote bagi sebagian besar pegawai. Dengan dukungan teknologi informasi, proses analisis data dan penyampaian informasi tetap berjalan efektif tanpa mengurangi kualitas layanan
- Kolaborasi dengan Institusi Akademik dan Penelitian
BMKG menjalin kerja sama dengan berbagai universitas dan lembaga penelitian untuk memperkuat kapasitas analisis dan pemodelan cuaca serta iklim. Kolaborasi ini menghasilkan kajian bersama yang mendalam mengenai pengaruh cuaca terhadap penyebaran COVID-19 dan strategi mitigasinya.
Melalui langkah-langkah tersebut, BMKG tidak hanya mampu menjaga kontinuitas layanan di tengah krisis, tetapi juga berhasil mempercepat transformasi digital dan meningkatkan kolaborasi ilmiah. Pandemi menjadi momentum penting bagi BMKG untuk membuktikan ketangguhannya—bahwa pelayanan publik tetap bisa berjalan bahkan di tengah situasi paling sulit dengan inovasi, kerja sama, dan komitmen kuat.
Resiliensi BMKG – Pilar Ketangguhan dalam Pelayanan Publik
Resiliensi BMKG selama masa pandemi menjadi cerminan nyata ketangguhan sebuah lembaga publik dalam menghadapi krisis. Ketika sebagian besar sektor mengalami keterbatasan, BMKG justru menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi, berinovasi, dan menjaga pelayanan publik tetap berjalan optimal. Ketangguhan ini tidak hanya terletak pada aspek teknologi, tetapi juga pada kesiapan organisasi dan partisipasi seluruh unsur yang terlibat.
Berikut beberapa aspek yang menunjukkan resiliensi BMKG:
- Fleksibilitas Organisasi
BMKG menunjukkan kemampuan menyesuaikan diri dengan cepat terhadap situasi darurat. Ketika pandemi membatasi mobilitas pegawai dan kegiatan operasional lapangan, BMKG melakukan berbagai penyesuaian dalam sistem kerja dan koordinasi internal untuk memastikan layanan tetap berjalan efektif. BMKG mampu menjaga kelancaran layanan utama melalui penerapan sistem kerja yang lebih fleksibel dan berbasis hasil, seperti peringatan dini cuaca ekstrem, informasi gempa bumi, dan potensi tsunami tanpa gangguan berarti. Fleksibilitas ini menjadi fondasi penting dalam menjaga keandalan layanan publik di tengah kondisi luar biasa.
- Inovasi Berkelanjutan
Krisis menjadi momentum bagi BMKG untuk mempercepat inovasi dalam layanan dan teknologi. BMKG terus memperkuat sistem pengamatan berbasis sensor otomatis dan satelit untuk meningkatkan akurasi dan jangkauan data meteorologi dan geofisika. Selain itu, pengembangan layanan digital dan aplikasi mobile, seperti InfoBMKG, memungkinkan masyarakat mendapatkan informasi cuaca, iklim, dan gempa bumi secara real-time, bahkan di daerah terpencil. Langkah ini tidak hanya meningkatkan efektivitas operasional, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap data dan informasi yang disampaikan BMKG. - . Keterlibatan Publik dan Stakeholders
Salah satu kunci keberhasilan BMKG dalam menjaga ketangguhan layanan adalah kolaborasi aktif dengan masyarakat dan para pemangku kepentingan (stakeholders). BMKG menyadari bahwa keberhasilan sistem peringatan dini dan layanan iklim tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesadaran dan partisipasi publik dalam memahami serta menindaklanjuti informasi yang diberikan.
Untuk itu, BMKG melaksanakan berbagai upaya, seperti:
- Program edukasi publik dan literasi cuaca melalui seminar, webinar, dan pelatihan daring yang melibatkan sekolah, komunitas, media massa, serta pemerintah daerah.
- Program edukasi publik dan literasi cuaca melalui seminar, webinar, dan pelatihan daring yang melibatkan sekolah, komunitas, media massa, serta pemerintah daerah.
- Pemberdayaan masyarakat siaga bencana dengan melatih aparat lokal dan relawan agar mampu membaca informasi meteorologi dan mengambil langkah cepat saat peringatan dini dikeluarkan.
Pemanfaatan media sosial dan platform digital sebagai sarana komunikasi dua arah dengan masyarakat, baik untuk menyampaikan informasi terkini maupun menampung umpan balik publik.
Melalui pendekatan ini, BMKG tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga mitra masyarakat dalam membangun kesiapsiagaan nasional. Hubungan yang erat antara BMKG dan para pemangku kepentingan memperkuat rantai komunikasi informasi cuaca dan bencana, sehingga respons masyarakat menjadi lebih cepat dan tepat.
Pelajaran dari Krisis – Membangun Organisasi yang Tangguh
Pengalaman BMKG selama pandemi COVID-19 memberikan banyak pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah lembaga publik dapat tetap tangguh, adaptif, dan relevan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian. Tantangan yang muncul bukan hanya menguji sistem kerja dan teknologi, tetapi juga karakter kepemimpinan, budaya organisasi, serta komitmen terhadap pelayanan publik. Dari pengalaman tersebut, terdapat beberapa pelajaran penting yang dapat menjadi fondasi untuk membangun organisasi yang tangguh di masa depan.
Kepemimpinan yang Visioner
Kepemimpinan yang visioner menjadi kunci utama dalam menjaga arah organisasi di tengah krisis. Pemimpin yang memiliki pandangan jauh ke depan mampu mengantisipasi risiko, mengambil keputusan cepat namun terukur, serta memberikan arahan yang jelas bagi seluruh jajaran organisasi. Dalam konteks BMKG, kepemimpinan yang visioner tercermin dari kemampuan pimpinan dalam menetapkan prioritas strategis, seperti memperkuat infrastruktur data, mempercepat transformasi digital, dan memastikan setiap unit tetap berorientasi pada pelayanan publik meskipun dengan sumber daya terbatas.
Kepemimpinan semacam ini bukan hanya reaktif terhadap situasi, tetapi juga proaktif dalam menciptakan peluang—menjadikan krisis sebagai momen untuk mempercepat perubahan positif dalam organisasi.
Menatap Masa Depan – BMKG sebagai Pilar Ketangguhan Nasional
Menatap masa depan, BMKG berkomitmen untuk terus menjadi garda terdepan dalam menjaga ketangguhan bangsa menghadapi berbagai tantangan global, terutama perubahan iklim, cuaca ekstrem, dan bencana geofisika. Tantangan-tantangan tersebut semakin kompleks dan saling berkaitan—mulai dari meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi, ancaman kenaikan suhu global, hingga dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian, perikanan, dan kesehatan masyarakat.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BMKG tidak hanya berfokus pada peningkatan akurasi informasi, tetapi juga menguatkan perannya sebagai lembaga strategis dalam mendukung kebijakan nasional di bidang mitigasi bencana dan pembangunan berkelanjutan.
Penutup
Kisah BMKG dalam menghadapi pandemi COVID-19 dan kebijakan efisiensi anggaran pemerintah merupakan contoh nyata bagaimana krisis dapat diubah menjadi peluang untuk memperkuat sistem dan struktur organisasi. Dengan semangat resiliensi, BMKG tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan memberikan kontribusi signifikan dalam pelayanan publik dan mitigasi bencana. Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi bagi lembaga lain dalam membangun organisasi yang tangguh dan adaptif di era yang penuh ketidakpastian ini.
Refrensi
- International Monetary Fund. (2022). Indonesia: 2022 Article IV Consultation—Press Release; Staff Report; and Statement by the Executive Director for Indonesia. IMF Country Report No. 22/85. Retrieved from https://www.elibrary.imf.org/downloadpdf/view/journals/002/2022/085/article-A001-en.pdf.
- OECD. (2024). OECD Economic Surveys: Indonesia 2024. Paris: OECD Publishing. Retrieved from https://www.oecd.org/en/publications/oecd-economic-surveys-indonesia-2024_de87555a-en.html.
- Pemerintah Republik Indonesia. (2025). Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja Negara dan Daerah Tahun Anggaran 2025. Jakarta: Sekretariat Negara. Retrieved from https://peraturan.bpk.go.id/Details/313401/inpres-no-1-tahun-2025.
- UNICEF Indonesia, SMERU Research Institute, & Bappenas. (2021). The Social and Economic Impact of COVID-19 on Households in Indonesia: A One Year Update. Jakarta: UNICEF Indonesia. Retrieved from https://www.unicef.org/indonesia/media/15441/file/The%20social%20and%20economic%20impact%20of%20COVID-19%20on%20households%20in%20Indonesia%20.pdf.